Penulis:

Ifa Faizah, S.Pd.

Dini Handayani, S.Pd, M.H.

Editor: 

Di tengah paradoks yang dihadapi dunia pendidikan kontemporer di satu sisi dituntut mempercepat transformasi digital, di sisi lain dibebani tanggung jawab menjaga karakter dan jati diri kebangsaan buku Manajemen Pendidikan untuk Penguatan Karakter, Demokrasi, dan Kewarganegaraan di Era Transformasi Digital mengajukan sebuah pertanyaan mendasar yang jarang dijawab secara tuntas dalam literatur manajemen pendidikan: dapatkah efisiensi teknologis dan kedalaman nilai kemanusiaan berjalan beriringan, alih-alih saling meniadakan?

Buku ini disusun dalam lima belas bab yang dibangun secara argumentatif dan berlapis, buku ini menolak pendekatan yang memperlakukan digitalisasi dan pendidikan karakter sebagai dua agenda yang terpisah. Sebaliknya, penulis menyusun sebuah kerangka integratif yang menempatkan fungsi-fungsi manajemen klasik perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan sebagai instrumen yang tetap relevan, namun harus dibaca ulang di tengah disrupsi teknologi. Mari kita menelusuri bagaimana landasan filosofis, yuridis, sosiologis, dan psikologis-pedagogis pendidikan tidak sekadar menjadi wacana normatif, melainkan fondasi epistemologis yang menentukan arah setiap kebijakan sekolah, dari yang paling teknis hingga yang paling substantif.

Bagian tengah buku menghadirkan salah satu kontribusi paling menarik: gagasan bahwa sekolah bukanlah sekadar institusi transmisi pengetahuan, melainkan laboratorium kewarganegaraan tempat demokrasi, keadilan, dan integritas dilatih secara nyata dalam interaksi sehari-hari melalui pemilihan pengurus organisasi siswa, mekanisme musyawarah kelas, hingga budaya organisasi yang membentuk apa yang oleh penulis disebut sebagai “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Pertanyaan yang terus digulirkan sepanjang bagian ini provokatif sekaligus reflektif: mungkinkah pendidikan demokrasi diajarkan secara efektif oleh sekolah yang dikelola secara otoriter?

Yang membedakan karya ini dari literatur manajemen pendidikan pada umumnya adalah keberanian penulis memasuki wilayah yang masih jarang dipetakan secara sistematis dalam konteks Indonesia: bagaimana kecerdasan artifisial dapat dan tidak dapat berperan dalam pembelajaran nilai. Penulis mengajukan argumen tajam bahwa AI hanya sah digunakan sepanjang bersifat human-centered, sebuah batas etis yang justru menjadi titik paling menantang ketika teknologi berbasis algoritma dihadapkan pada pendidikan yang sarat nuansa moral, seperti Pendidikan Pancasila. Di sinilah buku ini melampaui sekadar panduan teknis dan bertransformasi menjadi undangan berpikir kritis: sejauh mana efisiensi boleh mengorbankan kedalaman manusiawi dalam pendidikan?

Ditutup dengan pembahasan monitoring, evaluasi, dan studi praktik baik, buku ini secara konsisten menolak jebakan solusi instan. Penulis menegaskan bahwa penguatan karakter dan demokrasi sekolah bukanlah proyek yang dapat diselesaikan melalui satu kebijakan tunggal, melainkan proses dialektis yang menuntut kesabaran metodologis dan kejujuran evaluatif. Ditulis dengan kedalaman teoretis yang dipadukan secara cermat dengan ilustrasi empiris, buku ini menjadi rujukan penting bagi mahasiswa, dosen, kepala sekolah, dan pengambil kebijakan pendidikan yang ingin memahami bukan sekadar menerima begitu saja bagaimana pendidikan Indonesia dapat menavigasi era digital tanpa kehilangan ruh kebangsaannya.

 

Yayasan Kayyis Mulia Jaya adalah platform penerbit, percetakan buku, jurnal, dan karya ilmiah.

Scroll to Top