Penulis:
Karolus Baha Wato Makin
Imam Yahya Siregar
Edo Binsar Marpaung
Editor:
Pembahasan mengenai kedudukan anarkisme, sejarah lahirnya istilah tersebut, keterkaitan antara anarkisme–sindikalisme–sosialisme, serta perkembangan ketiganya di Indonesia telah menunjukkan bahwa aliran-aliran pemikiran ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah intelektual dan sejarah gerakan rakyat di berbagai belahan dunia, termasuk di Nusantara. Ketiganya bukan hanya wacana abstrak, tetapi juga muncul sebagai respons konkret terhadap situasi sosial, kondisi ekonomi, dan struktur kekuasaan yang membentuk pengalaman bersama umat manusia.
Anarkisme menempati posisi unik sebagai aliran pemikiran yang paling radikal dalam menggugat hierarki. Ia menolak segala bentuk dominasi—baik negara, kapital, agama, maupun struktur otoritas lain yang dianggap mengekang kebebasan manusia. Dalam kerangka ini, anarkisme menawarkan visi masyarakat self-governed, di mana kebebasan individu dan solidaritas sosial menjadi pilar utamanya.
Sindikalisme hadir sebagai jembatan antara pemikiran radikal dan praktik perjuangan kelas. Dengan mengandalkan kekuatan kolektif pekerja, sindikalisme mengembangkan strategi-strategi seperti aksi langsung, mogok massal, dan organisasi mandiri serikat buruh. Dalam gagasan ini, pekerja bukan hanya subjek perjuangan, tetapi juga calon pengelola masyarakat yang dikelola berdasarkan prinsip demokrasi industrial.
Sementara itu, sosialisme menawarkan analisis yang lebih struktural terhadap kapitalisme, menempatkan persoalan produksi dan kepemilikan sebagai inti persoalan masyarakat. Dengan menekankan kepemilikan bersama dan distribusi yang adil, sosialisme berupaya membangun tatanan sosial yang menghapus eksploitasi dan memastikan kesejahteraan kolektif.
Meskipun ketiganya lahir dari konteks sejarah dan tradisi intelektual yang berbeda, terdapat benang merah yang menghubungkan tujuan-tujuan mereka: pembebasan manusia dari ketidakadilan dan dominasi. Perbedaan terletak pada strategi, metode, dan fokus analisis, tetapi cita-cita moral dan sosial yang hendak dicapai pada dasarnya serupa.
Dalam konteks Indonesia, sejarah perkembangan anarkisme, sindikalisme, dan sosialisme mengungkap bahwa gagasan-gagasan ini bukan sekadar impor intelektual dari Barat. Sebaliknya, ia tumbuh melalui dinamika lokal yang rumit. Kelompok-kelompok radikal di Hindia Belanda, serikat-serikat buruh yang berkembang awal abad ke-20, hingga gerakan kiri yang terlibat dalam perumusan ide kebangsaan semuanya menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran ini telah menjadi bagian penting dari sejarah pembentukan kesadaran politik rakyat Indonesia.
Masa kolonial menjadi fase di mana gagasan-gagasan tersebut dipraktikkan dalam berbagai bentuk perlawanan. Serikat buruh yang mengadopsi strategi sindikalis dan kelompok-kelompok radikal yang terinspirasi anarkisme memunculkan perdebatan ideologis mengenai arah perjuangan nasional. Sosialisme, dalam berbagai variannya, tumbuh menjadi kekuatan politis melalui partai, organisasi massa, dan jaringan intelektual yang memperjuangkan perubahan struktural.
Memasuki masa Indonesia merdeka, perjalanan ketiga gagasan ini mengalami pasang-surut yang dipengaruhi oleh dinamika politik domestik. Peristiwa 1965 dan represi panjang terhadap gerakan kiri membuat gagasan- gagasan ini terpinggirkan dari wacana publik. Namun demikian, kejatuhan Orde Baru membuka kembali ruang untuk meninjau, menafsirkan ulang, dan menghidupkan kembali diskusi mengenai ide-ide radikal tersebut, baik dalam gerakan buruh, komunitas intelektual, maupun kelompok-kelompok alternatif yang mengupayakan bentuk-bentuk baru demokrasi dan solidaritas sosial.
Dengan demikian, menegaskan bahwa pemahaman terhadap anarkisme, sindikalisme, dan sosialisme tidak hanya penting untuk memahami sejarah gerakan kiri global, tetapi juga untuk membaca dinamika sosial-politik Indonesia secara lebih utuh. Mempelajari ketiganya berarti menelusuri bagaimana manusia, dalam berbagai ruang dan waktu, terus berupaya membangun masyarakat yang lebih adil, egaliter, dan bebas dari dominasi. Kajian ini juga membuka pintu untuk menelaah bagaimana ide-ide tersebut dapat diadaptasi, dikritisi, dan dikembangkan kembali dalam menghadapi tantangan kontemporer, seperti ketimpangan ekonomi, eksploitasi tenaga kerja, krisis demokrasi, hingga persoalan lingkungan.

Yayasan Kayyis Mulia Jaya adalah platform penerbit, percetakan buku, jurnal, dan karya ilmiah.
